1
Malam itu sangat dingin sekali , dingiiin sekali menusuk hingga tulang rusuk yang ketujuh , waktu begitu terasa sangat lama , kabut menutupi pandangan malam yang gelap , angin dan kabut berhembus begitu kencangnya hingga berbunyi hembusan kesunyian , entah apa yang terjadi aku pun tak tau kalau cuaca dipegenungan seperti ini , badan pun menggigil dengan sendirinya , jaket yang kupakai tadi sore telah habis diguyur hujan saat perjalanan menuju villa , iya cuaca begitu berkabut sejak tadi sore , sekarang waktu menunjukkan pukul 8 malam , aku hanya memakai kaos tipis dan celana pendek yang masih kering , tak lupa kubalut leher dengan sehelai sarung .
2
daun teh begitulah kau kugambarkan , lbih tepat lagi pucuk teh , kehadiranmu sungguh menghangatkan seperti daun teh yang tetap hangat dicuaca pegunungan . hijau , kuat , lembut , dan tak pernah mengeluh didalam kabut , gelap dan kesunyian, tawamu bahkan ketakutanmu tetap membuatku merasa aman . lagian kau juga mirip daun teh , takut sama ulat , yang bisa memakanmu .
3
aku yang pemalu tak dapat apa-apa , hanya melihatmu dari kejauhan sudah membuatku berani diluar sendirian . malam itu aku hanya duduk digazebo didepan villa . dengan secangkir kopi hangat , awalnya sempat rame , tapi pada ga kuat , karena dingin . ak duduk sambil jongkok diatas kursi melihat kebun teh yang tertutupi kabut beberapa puluh meter didepanku , gemericing bunyi lampu yang diikatkan ditiang kayu yang diatasnya ditutupi seperti piring terus berbunyi terkena angin kencang , pasti pada bingung kenapa aku lebih milih diluar , iya memang dari dulu aku sangat suka badai dan cuaca seperti ini , hanya mengamatinya dan merasakannya dengan mata tertutup sudah membuatku begitu merasakan indahnya hidup , dan umurku panjang . aku begitu suka2 saat-saat seperti ini walau didalam gelap sekalipun , kebetulan bulan tak memancarkan cahanya yang tertutup kabut tebal , beberapa kali kulihat satu - dua orang lewat untuk memastikan villa , kurang lebih seperti ronda .
4
malamnya , tepat pukul 11 lebih , ketua angkatan mengajak kami untuk berendam air panas , aku memutuskan untuk ikut . divilla kelompokku sdah pada tidur bgitu juga dengan sidaun teh , dia tidur lebih dulu , suasana seperti ini sangat sayang dilewatkan hanya untuk tidur belaka , kamipun menuju pemandian air panas dengan dua buah senter . sesampainya ditempat pemandian , kami menemukan suasana yang begitu berbeda , ramai , hangat , hiruk pikuk main gaplek dilengkapi dengan musik juga , kami menelusuri lorong -lorong disambut dengan para senior yang sedang ramah menawarkan jagung bakar dan bandrek . asap hangat mengepul-ngepul dari pemandaian air panas dan gerobak tempat membakar jagung . kuhabiskan jagung bakar sambil duduk dibibir kolam hanya untuk merendam kaki ...(bersambung )